Makan Malam

Hari Senin sudah tiba lagi. Masih seperti biasa, tidak ada perubahan sama sekali. Aku paling sebel kalau harus upacara bendera. Badan pegal, pusing, panas lagi. Apalagi sekarang musim kemarau, semuanya pada kering. Ditambah lagi anak-anak di kelas kerjaannya ribut terus, menambah suasana panas menjadi tambah gerah dan menjengkelkan. Berisik…..!!!!!!!! BT banget.
Jam pelajaran pertama yang seharusnya diisi sama pak Bambang, seorang guru matematika, kebetulan enggak bisa masuk karena sedang ada tugas ke luar kota. Tentu saja itu membutku senang.
“Gimana malam mingguanya?” tanya Neta tiba-tiba.
“Masih seperti biasa. Kalau enggak baca buku, ya…nonton DVD,” jawabku santai.

“Jadi sampai sekarang tetap enggak mau mencoba untuk mencari seseorang?” tanya Vila.

Aku memandang Neta dan Vila. Mereka berdua adalah sahabat terbaikku. Keduanya berusaha membujukku untuk segera mempunyai pacar. Sementara aku sendiri merasa itu bukanlah hal penting yang harus aku pikirkan.

“Untuk sekarang ini masih enggak bisa,” ucapku.
“Gimana kalau aku kabarin berita buat kamu,” kata Neta semangat.
“Aku yakin kamu pasti enggak bisa nolak,” tambah Vila semakin antusias.

“Aku lupa namanya,” kata Neta menjelaskan. ”Yang pasti cowok itu cakep banget, tinggi dan pokoknya keren deh,” Neta menambahkan.

“Terus kalau sudah seperti itu mau apa?” tanyaku cuek.

“Cowok itu nitip salam sama kamu, Gie,” lanjut Neta tersenyum. ”Selain itu dia juga pengen kenalan sama kamu.”

“Cowok itu nitip salam sama aku? Ya, udah. Terima kasih,” jawabku singkat.

Neta mengernyit mendengar jawabanku. Begitu juga dengan Vila yang dari tadi cuma menyemangati Neta. Mereka berdua enggak puas dengan tanggapanku tentang cowok itu.
“Hanya itu?!” tegas Neta. ”Enggak mau salam balik buatnya atau merespon ajakannya sama sekali?”

“Enggak mau berlebihan ah, lagian belum ada niat,” kataku tertawa kecil.
“Alasannya masih melekat banget nih, kita buang aja pikiran itu dari otaknya yuk!” kata Neta berpandang kearah Vila seraya mencibir.

“Dia itu cakep banget. Aku aja suka. Masa mau disia-siain, kan sayang…,”kata Vila polos.

“Gimana?” Neta tetap meyakinkanku.
“Enggak,” jawabku singkat.
“Ya udah, sekarang kita ke kantin aja, aku haus banget, mumpung enggak ada pak Bambang. Lain kali aku akan membujukmu lagi. Ingat!” kata Neta.
Belum sempat aku, Neta dan Vila beranjak dari kursi, tiba-tiba…
“Selamat Pagi, anak-anak!”
Hah !!!!!! kita bertiga terkejut.

“Ternyata keluar kotanya minggu depan, bukan hari ini. Jadi sekarang kita bisa belajar matematika. Serahkan PR kalian semua yang kemarin ditugaskan!” kata pak Bambang semangat.

Kita bertiga saling berpandangan mengeluh.

% % %

Aku berlari secepat mungkin supaya sampai di sekolah dengan tepat. Hari ini aku bangun kesiangan. Semalam aku nonton film di TV sampai pukul satu dini hari. Tau sendiri kalau aku senang banget nonton film. Apalagi jika film-film tersebut merupakan box office. Kembali lagi aku disadarkan bahwa sesungguhnya aku harus berlari. Kulihat jam ditanganku, waktunya menunjukan pukul tujuh kurang sepuluh menit. Nafasku ngos-ngosan menahan nafas yang memburu. Masih tetap berlari dan siap belok ke arah kanan menuju ruangan kelasku, tepat berdampingan dengan perpustakaan.

“Auuwww!!!!!!!” seketika aku berteriak terkejut.

Seseorang telah berdiri didepanku sambil merasakan sakit didadanya yang sempat tertabrak olehku.
“Sepertinya ada yang ketinggalan matanya di rumah,” ucapku ketus. ”Menabrak orang sampai membuat tasnya terjatuh berantakan,” ucapku enggak mau disalahkan.

“Sorry, aku sedang terburu-buru. Jika kamu ingin memarahiku nanti saja. Aku siap mendengarkan. Sekali lagi, sorry,” ucapnya sambil berjalan meninggalkanku.
“Hei…!! tunggu dulu. Masa kamu membiarkan masalah ini begitu saja.”

Orang itu tidak mendengarkanku. Kemudian dia belok ke ruang perpustakaan dan tanpa mendengar ucapanku sama sekali. Sikapnya begitu santai dan itu telah membuatku ingin marah lagi kepadanya.
“Augie, ada apa teriak-teriak?” terdengar suara yang enggak asing di belakangku. Jantungku deg-degan. Kemudian segera menoleh perlahan.

“Oh, pak Bambang. Maaf pak,” kataku memohon.

“Cepat masuk! Lagi-lagi kesiangan, apa alasan yang akan kamu utarakan sekarang?” bentak pak Bambang keras.
Aku menunduk malu. Menjawab dalam hati, bahwa aku kesiangan karena aku nonton film lagi. Sedangkan kenapa aku berteriak? Itu karena terjadi insiden tabrakan yang membuatku marah. Aku sama sekali enggak mau menerimanya.

% % %

Hari selanjutnya aku enggak bisa menyankal waktu kalau aku kesiangaen lagi. Padahal aku sudah berusaha untuk enggak nonton film larut malam dan tidur lebih cepat pada pukul delapn malam. Tentu saja aku heran, kenapa tetap saja bisa kesiangan?
Lagi-lagi aku bertindak serba terburu-buru. Bergerak cepat dan berlari cepat. Supaya segera tiba di sekolah. Akan tetapi aku lebih berhati-hati ketika aku akan belok ke kanan. Karena aku tau disamping ruang kelasku ada perpustakaan. Siapa tau akan terjadi tabrakan lagi.

“Auuwww!!!!!!” aku menjerit dengan keras.

Sekarang orang itu, yang ternyata jauh lebih tinggi dariku baru saja keluar dari perpustakaan. Dia secara cepat keluar dan langsung menabrakku.

“Sorry.”
“Kamu lagi?! Belum menemukan matanya yang ketinggalan, ya?” ucapku lumayan keras.

“Sorry, enggak sengaja. Simpan dulu amarahnya, nanti lanjutin lagi di perpustakaan selepas pulang sekolah. Soalnya aku cuma punya waktu saat itu. Sekarang sibuk!” lalu dia pergi meninggalkanku, sekali lagi tanpa mau mendengar ucapanku terlebih dahulu.

“Heh! memangnya marah bisa dijadwal seperti itu? Dasar cowok cuek yang aneh.”

“Siapa yang cowok aneh, Augie?” sekali lagi terdengar suara yang sangat aku kenal.

Pak Bambang sudah berdiri di depan pintu kelas. Kumis hitamnya yang tebal bererak-gerak. Siap-siap deh dimarahin lagi.

% % %

“Maay ya, aku enggak akan pulang bareng sama kalian. Soalnya aku harus ke perpustakaan dulu,” kataku.

“Tumben kamu mau ke perpustakaan, mau ngapain?” tanya Neta.
“Ada apa sih?” tanya Vila ikut nanya.
“Mau nyari buku buat adikku, kemarin dia pesan padaku” jawabku sekenanya.
“Oke deh, kita pulang duluan,” kata Neta seraya ngeloyor pergi bareng Vila.

Aku menghela nafas lega. Untung Neta dan Vila percaya kalau aku mau nyari buku buat adikku. Padahal sebenarnya aku mau mencari cowok yang pernah menabrakku. Aku khawatir kalau mereka tau aku mendekati cowok, mereka bakalan berpikir yang macam-macam. Aku kan menemui cowok itu bukan untuk pendekatan. Malah sebaliknya, aku ingin memarahinya atau paling tidak aku bisa memperingatinya. Supaya dia jangan menabrakku lagi, walaupun sejujurnya aku juga bersalah dalam tabrakan itu.

Aku tiba di perpustakaan. Langsung mencari-cari cowok tinggi yang menabrakku di sekitar rak-rak buku yang berdiri rapi. Tentu saja aku masih ingat wajahnya.
“Ada yang bisa kubantu?” tiba-tiba cowok yang aku cari muncul di depanku.
“Jadi kamu memang benar disini,” sapaku sinis.
“Memangnya kenapa?”
“Enggak kenapa-napa.’’
“Boleh aku tau mau ngapain ke perpustakaan?”
Mendadak aku jadi gugup. Entah kenapa? Padahal sebelumnya aku sudah yakin sekali dengan kata-kata marah yang akan aku keluarkan.
“Dengar ya,” akhirnya aku berkata. ”Lain kali supaya kamu enggak menabrak aku lagi, cobalah untuk berjalan hati-hati.”
“Soal tabrakan kemarin, ya? Iya, aku mengaku salah. Maafkan banget atas kejadian itu” katanya.

“Hanya minta maaf sesimpel itu?” tanyaku mengernyit. “Aku dimarahin sama pak Bambang karena kejadian kemarin. Sampai dia menghukumku juga. Itu semua karena kamu!” lanjutku tegas.

“Iya, aku akan minta maaf setulus hatiku sampai kamu benar-benar mau memaafkanku.”
Aku mencibir mendengar perkataannya yang terdengar dibuat-buat.

“Tapi tentu saja aku harus tau dulu namamu,” katanya menawar.
Aku semakin bingung menghadapi sikap cowok itu. Malah mengalihkan pembicaraan dengan mengajakku kenalan. Tapi mau gimana lagi, toh hanya sebuah nama, bukanlah sebuah rahasia yang patut untuk disembunyikan.

“Namaku Augie, cukup jelas!” balasku singkat.

“Terdengar sangat jelas,” tanggapnya mantap. “Nama yang sangat bagus, juga nama yang sangat cantik. Yah…cantik seperti yang punya nama.”

“Jangan banyak kata! Sekarang siapa namamu?!” tanyaku cepat.
“Namaku Putra. Mau berjabat tangan?” pintanya yakin.

Lagi-lagi sikapnya membuatku tambah bingung. Semua yang dia lakukan memang benar. Aku enggak bisa nolak ajakan salaman dia.

“Aku mau berpesan dulu buatmu, jangan sekali-kali menabrakku lagi!”

Putra menggangguk dan untuk yang ketiga kalinya dia berujar minta maaf. Melihat tingkahnya yang tidak terlalu menjengkelkan, aku pun menerima jabatan tangannya. Toh cuma sebatas sentuhan tangan. Tanpa berpikir panjang aku melepas salamanku secepatnya. Segera berbalik pergi kemudian berlalu dari pandangan Putra.“Gie…!” aku mendengar Putra berseru kepadaku. “Terima kasih atas kedatangannya…!!” ungkapnya yakin dengan seruan yang menyenangkan. Aku masih mampu mendengarnya ketika aku berbelok dibalik rak-rak lalu keluar dari perpustakaan. Aku heran, kenapa aku enggak jadi marah?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *