Desa Masawah

Portal Resmi Desa Masawah

Yang Tak Terduga

7 min read
Erni adalah anak pindahan dari Bandung. Dia sekarang sekolah di salah satu SMU terkenal di Jakarta. Dia sendiri tak begitu tahu mengenai kepindahannya. Karena semua yang mengatur keperluannya adalah orang tuanya sendiri. Dia tak pernah memilih untuk sekolah dimana. Yang dia tahu hanyalah, dia ikut pergi mengikuti orang tuanya. Dia hanya berupaya menuruti apa kemauan ayah dan ibunya.
Hari pertama Erni sekolah. Dia masih kikuk ketika masuk kantin saat istirahat berlangsung. Wajahnya tampak malu-malu ketika semua anak di kantin menyapanya. Dia tak kuasa menahan debaran jantungnya yang menyentak-nyentak dadanya. Rasanya dia ingin segera kabur dari tempat itu, karena semua orang tak henti-hentinya memperhatikan dirinya. Dia sadar, dia adalah anak baru di sekolah itu. Tapi bukan berarti semua anak bebas mengawasinya seperti orang aneh kan. Sebab dia sama sekali tak mau dipandang aneh oleh teman-temannya.
Tak menghabiskan waktu semenit pun, Erni buru-buru berlalu dari kantin. Dia segera berlari keluar berniat menuju kelasnya. Tapi tiba-tiba…
“Kamu anak baru, ya?!” seseorang menyapanya.
Sontak Erni langsung berhenti mendengar suara yang ditujukan padanya. Suara itu berasal dari salah seorang cowok yang sekarang berada di depannya.
“Iya,” jawabnya dengan sangat gugup.
“Oh,” tanggapnya singkat, lalu cowok itu melengos pergi meninggalkan Erni.
Cowok itu menyisakkan wangi parfum yang sangat dahsyat saat berjalan melintasi Erni. Erni pun terpukau dibuatnya. Dia sampai tertegun memperhatikan penampilan cowok itu. Yang menurutnya lebih keren dari pangeran manapun. Sejenak dia tak bisa mengatupkan mulutnya. Dan… dia pun tertabrak seseorang –salah satu teman sekolahnya juga- yang tak sengaja melewatinya.
“Auw!!” pekik Erni.
Sambil mengibaskan baju seragamnya, orang yang menabrak itu berkata dengan ekspresi sangat senang.
“Hai, kamu anak baru itu, ya? Kenalkan namaku Gaga,” ucapnya dengan penuh gaya.
‘Ya. Namaku Erni,” katanya singkat.
Gaga tersenyum-senyum. Tingkahnya itu membuat Erni bingung. Selanjutnya dia pun buru-buru pergi dari kantin itu. Dia memutuskan untuk tinggal saja di kelas selama istirahat. Meninggalkan Gaga yang masih tersenyum aneh untuknya.

Enam bulan kemudian…
Waktu yang sangat cukup untuk beradaptasi bagi siapa saja, termasuk buat Erni. Dia telah mengalami berbagai macam kejadian. Dan semua kejadian selalu membuatnya bisa tersenyum bahagia. Dia memang cewek yang rendah diri. Hampir semua orang tahu kalau dia adalah cewek yang sangat dermawan. Dia selalu memberikan banyak hal terbaik untuk semua orang. Terlebih jika ada orang yang dia sukai. Dia akan berkorban semampunya. Dan dia akan menyerahkan semua yang dia punya untuk orang yang dia cintai. Berdoa saja semoga dia tidak menyerahkan keperawanannya, he… he… he….
“Kamu lagi ngapain?” tanya Gaga kepada Erni, waktu istirahat di halaman sekolah.
Gaga adalah teman sekelas Erni yang selalu menemaninya. Mereka akhirnya berteman akrab.
“Aku lagi membuat sebuah puisi cinta,” jawab Erni.
“Pasti puisi tentang Bagas?” tebak Gaga.
Bagas adalah cowok kelas tiga yang ditaksir Erni sejak peristiwa di kantin itu. Dia jatuh cinta sama wanginya. Bukan itu saja, sepertinya Erni memang benar-benar jatuh cinta pada Bagas. Buktinya dia tak berhenti ngobrolin Bagas di depan Gaga.
“Iya dong,” jawab Erni dengan senyum terkembang.
“Yah….” Gaga mengeluh seraya mengangkat bahunya tak peduli.
“Kenapa? Gak boleh?” ujar Erni mencibir.
“Terserah!” kata Gaga acuh.
“Aku boleh pakai buku kamu?” pinta Erni seraya terkikik kecil.
“Terserah!” kata Gaga sekali lagi dengan acuh.
Sebenarnya kalau harus jujur sih, tak pernah terbersit secuil pun di hati Erni untuk menyukai Bagas. Waktu itu dia hanya terpesona dengan wanginya saja. Dia tahu seorang Bagas tak mungkin menyukainya. Tapi lama kelamaan dia jadi makin mengharapkan Bagas. Semuanya berawal ketika –entah sengaja atau tidak- Bagas sering membayarkannya ongkos bis ketika secara kebetulan mereka bertemu di bis. Kontan saja perlakuan Bagas itu membuatnya berbunga-bunga. Dia selalu tersenyum-senyum dan punya kesimpulan sendiri mengenai hal itu.
Kendatipun demikian, dia masih selalu bertanya-tanya tentang itu semua, terutama sama Gaga. Dia selalu bertanya pada Gaga kenapa Bagas jarang –malah mungkin belum pernah- mengajaknya jalan? Apakah itu menerangkan bahwa Bagas cuma main-main? Akan tetapi, Gaga selalu cuek aja tak berkomentar. Cowok itu senang membuat Erni kesal.

Hari yang cerah di belakang sekolah.
“Ngomong-ngomong kapan kamu mau main ke rumahku? Aku punya banyak koleksi miniatur-miniatur gitar yang keren. Katanya kamu sedang mengumpulkannya. Biar aku bantu deh,” ujar Gaga, menyandarkan punggungnya ke sebuah pohon gede.
Erni tak bergeming. Entah apa yang sedang dia pikirkan. Banyak sekali hal-hal yang berkeliaran di dalam otaknya. Mungkin salah satunya adalah Bagas.
“Erni, kamu mendengarkan aku gak?” tanya Gaga bête.
Erni masih tak bergeming.
Gaga mengguncangkan tubuh Erni sampai bergoyang-goyang. Barulah Erni sadar dan segera mengerling kepada Gaga. “Ada apa?” tanyanya.
“Yeah, gak ada apa-apa kok,” keluh Gaga kesal.
Erni hanya manggut-manggut mendengarnya.
Beberapa menit kemudian. Erni melihat Bagas menghampirinya sambil menggenggam sesuatu yang tak bisa di tebak. Dia tak bisa menyangkal kalau Bagas memang sedang menghampirinya. Sontak saja dia jadi bingung sendiri. Dia benar-benar gugup jika harus menghadapi Bagas. Dia selalu kehilangan kata-kata secara mendadak.
“Erni,” sapa Bagas, tepat ketika dia sudah berada di depan Erni, sementara Gaga memandangnya datar. “Aku mengundangmu ke pesta ulang tahunku dua minggu yang akan datang. Kau datang ya,” katanya, sembari menyerahkan sebuah kartu undangan lucu yang bentuknya sangat menarik.
“Mmmm, iya. Aku pasti datang!” tanggap Erni antusias.
“Ini buatmu, Ga. Kamu juga datang, ya!” seru Bagas kepada Gaga, yang hanya dibalas dengan anggukan kecil.
“Terima kasih, Bagas.” Erni berkata kikuk banget.
Bagas berlalu dari hadapan Erni dan Gaga, menyisakkan wangi yang semerbak.
“Kamu mau gak maen ke rumahku? Aku bilang aku punya banyak miniatur-miniatur gitar yang keren,” Gaga masih tetap dengan perkataan sebelumnya.
“Ga, aku senang dia menyerahkan langsung undangannya untukku. Apa aku harus pura-pura gak senang. Aku senang, Ga!” Erni tersenyum-senyum sumringah.
Gaga menggeleng-gelengkan kepala. Ia memandang Erni dengan enggan.
“Bagas baik ya.”
Gaga pun menggigit bibir menanggapinya.

Kejadian selama dua minggu.
Erni tak pernah menyembunyikan senyuman termanisnya buat siapa saja. Dia selalu tersenyum merasakan hatinya yang ceria. Dia selalu mencurahkan semua perasaan indahnya dan mengacuhkan Gaga yang selalu bercerita di depannya. Dia tak pernah melewatkan waktu sedikit pun untuk melihat Bagas dari jauh, sementara Gaga terheran-heran melihat tingkahnya. Dan dia tak sempat mendengarkan berita penting yang harus dia tahu dari Gaga, karena dia terlalu sibuk dengan mimpinya sendiri. Dia tak menggubris Gaga yang ngoceh di dekat telinganya, kendatipun omongan yang disampaikan teramat penting untuknya.
Pada malam pesta ulang tahun Bagas.
Suasana di depan rumah Bagas tampak sangat meriah. Pestanya diadakan di luar ruangan yang telah dipenuhi dengan berbagai hiasan. Balon-balon –yang semuanya berwarna hitam-putih- tersemat hampir di setiap sudut. Dan keseluruhan dari semua hiasan itu, semuanya memakai warna hitam-putih, sesuai dengan warna favorit Bagas. Termasuk sebuah kue ulang tahun berbentuk gitar, yang disimpan di atas meja tepat di pinggir kolam renang, juga berwarna hitam dan putih.
Semua teman-teman Bagas berpencar saling berkelompok menunggu acara yang belum dimulai. Erni bisa menyaksikan dengan jelas semuanya mengenakan kostum hitam dan putih sesuai dengan dresscode yang dicantumkan diundangan. Dia mencari-cari Gaga. Namun, sampai acara akan dimulai dia tak menemukannya.
Dia pun terlupa dengan Gaga ketika melihat penampilan Bagas malam itu. Baginya Bagas adalah pangeran yang takkan tertandingi ketampanannya. Dia bergumam beberapa kali dan memujinya di dalam hati.
Bagas tersenyum kepadanya sangat tulus.
Erni semakin kikuk. Dia tak kuasa menahannya. Dia harus tetap santai, tak boleh sedikitpun dia terlihat canggung dimata Bagas.
Acara berlangsung terasa sangat singkat. Nyanyian ulang tahun, potong kue, dan pemberian kue pertama –sedikitnya Erni kecewa ketika dia melihat beberapa orang yang mendapatkan potongan kue- sementara dia hanya mampu menggigit jari. Tapi, toh dia tetap senang mengikuti acara sampai berakhir.
Saat semua teman-temannya beranjak untuk pulang, dan Erni sendiri masih berdiri terpaku, Bagas menghampirinya. Tak luput Bagas memasang senyum termanisnya seperti biasa.
“Ada sesuatu yang kamu harapkan?” tanya Bagas pelan.
Deg! Jantung Erni berdegup kencang.
“Selama ini pasti kamu selalu menunggu sesuatu. Iya, kan?” lanjut Bagas.
Erni berusaha mencerna maksud perkataan Bagas dan tak lupa tetap mengulum senyum.
“Maaf, jika aku tidak sesuai dengan apa yang kamu harapkan,” kata Bagas datar.
“Aku tak pernah memaksamu. Namun jika seandainya kamu mau, aku juga mau.” Erni berujar pelan malu-malu.
“Bukan begitu maksudku,” sangkal Bagas segera.
“Lalu apa?” tanya Erni mengangkat alis.
“Aku cuma mau minta sama kamu, kamu jangan pernah mengharapkan sesuatu yang lebih dariku. Aku bukanlah sebuah hadiah yang bisa kamu bayangkan, aku bukan itu. Selain itu, aku berpesan sama kamu. Jangan pernah memaksakan cinta yang belum tentu bisa kamu dapatkan. Aku tahu kamu menginginkan sesuatu yang lebih dariku. Rasanya aku tak pernah menyukaimu, dan tak ada cinta dihatiku untukmu. Satu cintaku adalah untuk Indah,” katanya menunjuk salah seorang cewek cantik –yang Erni tahu cewek itu mendapatkan kue ulang tahun juga, sedang berdiri di dekat pintu rumah.
Erni membisu.
“Terima kasih atas kedatanganmu malam ini. Aku senang sekali kamu bisa hadir pada pesta ulang tahunku, semoga kamu menikmatinya,” kata Bagas kemudian berlalu pergi mendekati Indah. Indah pun tersenyum kepada Erni mengenalkan diri.
Entah apa yang dia rasakan saat itu. Tubuhnya gemetaran dan hatinya dipenuhi rasa dongkol dan kecewa atau apalah dia tak tahu. Pikirannya terlalu kacau untuk menerangkannya.
Bagas kembali mendekati Erni.
“Maaf ya, Erni. Aku tak bermaksud menyakitimu,” ucapnya berbisik.
Benci!! Erni sangat membencinya. Dia tak pernah menduga seorang Bagas mempunyai kata-kata yang begitu menyakitkan. Dia sangat kecewa, perkataannya sangat merendahkannya. Dia tak menduganya.
Dia pun pergi. Berlari dengan cepat untuk menjauh dari kenyataan. Dia tak mau terlarut, dia tak mau terbawa perasaan. Lebih baik dia menghindar dari Bagas dengan segera, sampai dia tak mampu melihatnya lagi. Dia terus berlari melewati semua jalur jalanan yang sepi. Sepertinya malam juga tak bersahabat dengannya, anginnya mendadak terasa sangat dingin menyelimuti tubuhnya.
Tiba-tiba tanpa pernah dia menduga sebelumnya, dia berhenti menyeka air matanya sekaligus menahan nafasnya yang tersengal-sengal. Dalam kekecewaan yang tak diharapkannya, dia menemukan seseorang berjalan memakai sepatu yang sangat dikenalinya berhenti di depannya. Dia melihatnya ketika sedang menunduk menahan letih. Dia segera menengadah dan….
Gaga berdiri tegap menatap Erni. Cowok itu menyodorkan tangannya menawarkan pelukan. Apakah ini sesuatu yang tak pernah dia duga juga?
Tentu saja.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © All rights reserved. | Newsphere by AF themes.