Menjadikan Mal Sebagai Destination

Banyak alasan kenapa orang datang ke Mal, alasan tersebut antara lain : (1) Karena mereka sudah terikat oleh emosi. (2) Karena barang – barang yang disediakan sudah macth (cocok) dengan kebutuhan mereka. (3)Karena faktor lokasi, akses, dan ukuran mal sangat mempengaruhi konsumen untuk mengunjungi sebuah mal.

Daya beli target pasar mal kelas atas tidak terpengaruh oleh kondisi sosial ekonomi. Sebab ada faktor lain yang dapat menunjang pemasaran mal. Handaka Santosa, Chief Executive Officer Senayan City, menyebut Desain dan konsep mal.

Memberikan ruang untuk kegiatan promosi dan pemasaran jelas menjadi prioritas setiap mal. Belakangan semakin disadari bahwa mal merupakan sebuah pasar tersendiri yang berpotensi besar. Bagaimana tidak, setiap hari konsumen potensial berdatangan ke mal, sehingga mal kini menjadi ajang promosi yang tak kalah heboh dibandingkan tempat – tempat umum lainnya.

Bagi penyelengara mal, ada dua hal yang menjadi prioritas kerja mereka. Pertama, bagaimana memasarkan mal agar konsumen datang kesana. Dan kedua, bagaimana memberikan ruang (media) pemasaran agar aktivitas promosi berlangsung efektif di sana.

Menurut Handaka, untuk dapat menarik pengunjung dapat dilakukan dengan berbagai cara, diantaranya yaitu :

  1. mal harus menjadi pilihan konsumen karena lokasi gampang dan tidak melelahkan.
  2. mal harus menjadi one stop shopping bagi konsumen. Dan juga mal yang besar dan lengkap pasti menjadi pilihan utama konsumen.
  3. mal harus berani tampil dengan identitas tenant yang berbeda dengan mal – mal sekelasnya.
  4. mal mengadakan acara hiburan secara berkala sesuai dengan moment yang tepat.
  5. memanfaatkan strategi below the line & above the line. Above the line dengan beriklan di media masa, radio, dan TV. Sementara below the line dengan pemasangan giant banner, umbul – umbul, penyebaran brosur, dan lain – lain.
Di Indonesia antar mal yang sekelas masih saling memperebutkan tenant. Dengan kondisi seperti ini, maka yang harus dilakukan adalah pertama, masing – masing mal harus bisa menarik anchor tenant yang besar. Kedua, event –event yang digelar di masing – masing mal haruslah tepat kalau perlu sewa orang khusus untuk memprorgam event di mal.

Intinya, menurut Yongki Surya Susilo, Direktur Retailer & Business Development PT AC Nielsen, mal harus lebih berorientasi ke pemasaran, yaitu berbasis sasaran (target), diferensiasi (pembedaan), dan image development (citra).

Sumber : Artikel dari Majalah Marketing Mix

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *