Benarkah Kita Sudah Mencintai Nabi Muhammad SAW?

Dalam rangka memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW, sebagian besar umat Islam di Indonesia mengadakan acara rutinan yang disebut maulid nabi. Salah satunya Tabligh Akbar. Apakah salah? Jawabannya tentu saja tidak. Fakta ini pada dasarnya menggambarkan keimanan yang dimiliki oleh umat dengan menunjukkan kecintaan yang begitu tinggi terhadap kenabian dan kerasulan Muhammad SAW. Apalagi mayoritas masyarakat Indonesia memiliki perasaan keislaman yang tinggi kepada Nabi SAW.
Atas dasar keimanan inilah, umat diperintahkan-Nya untuk menaati beliau di dalam Surat Al-Imran ayat 132 dan Surat An-Nisa ayat 80. Hal ini menjadi kewajiban bagi kaum muslim untuk mengikuti (ittiba’) kepada Rasulullah SAW, sebagai pembuktian nyata mencintai Allah SWT.
Namun pembuktian tersebut, kebanyakan dilakukan sebatas ceremony dan parsial saja. Hal ini disebabkan karena di dalam mencontoh Rasul lebih mengedepankan masalah individu, moral, mental dan Ibadah mahdhahnya sesuai kebanyakan umum yang dapat dilaksanakan saja. Tetapi untuk penerapan agama di dalam ranah Politik, banyak yang menjauhi dan tidak menerapkan berdasarkan contoh Nabi SAW, seperti halnya masalah hudud, dan memilih pemimpin. Padahal ranah politik tidak dapat dipisahkan dari agama sebagai wujud Mahabbah dan Ittiba’ kita sebagai manusia yang berakal. Imam Qatadah menjelaskan, “ Nabi SAW, menyadari bahwa tidak ada daya bagi beliau dengan perkara ini kecuali dengan kekuasaan. Karena itu beliau memohon kekuasaan yang menolong untuk Kitabullah, untuk hudud Allah, untuk kewajiban-kewajiban dari Allah dan tegaknya agama Allah (Imam ath-Thabari, Tafsirath-Thabari).
Kekuasaan yang menolong ditujukan untuk menolong agama Allah SWT, mulai dari asasnya, bentuknya, sistemnya, hukumya, perangkat-perangkatnya, struktur dan semua penyusunnya. Kekuasaan yang menolong inilah yang disebut Khilafah Rasyidah ‘ala minhaj an-nubuwwah yang seharusnya menjadi agenda sangat penting bagi umat, untuk diwujudkan secepatnya. Benarkah kita sudah mencintai Rasul? Wallaha’lam bi ash-shawab. [SK.CO]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *