Pengaruh Hormon Terhadap Rasa Cinta

Manakala usia perkawinan sudah dibilang tidak baru lagi, tidak sedikit pasangan yang merasakan perubahan dalam hubungan suami isteri. Pada tahun pertama perkawinan, kegairahan meledak-ledak memenuhi hati hampir setiap pasangan.

Seiring dengan berjalannya waktu, rutinitas dan kehadiran buah perkawinan yang menyita perhatian, lambat laun cinta yang dirasakan pun berubah. Cinta yang dirasakan bukan lagi cinta yang menggebu-gebu, cinta yang dirasakan kini terasa lebih tenang dan damai. Kenyataan ini tak terlepas dari pengamatan dan penelitian para akhi yang mencari jawaban baik secara kimiawi maupun secara biologis. Anthony Walsh, penulis buku “The Science of Love, Understanding Love and It’s Effects on Mind and Body” menyatakan bahwa cinta adalah semacam candu yang akan membuat kita ‘melayang’. Hal ini terjadi karena adanya serangkaian perubahan kimia yang membuat darah dan otak si pencinta banyak terisi oleh sejenis zat yang dapat digolongkan amphetamine. Zat-zat ini akan merangsang kerja otak dan menyebabkan kita merasa bahagia, rileks dan bergairah.

Permasalahannya, pengaruh zat-zat kimia ini sifatnya tidak abadi karena lama kelamaan tubuh kita akan menjadi kebal. Sehingga dalam kondisi seperti ini dibutuhkan zat kimia yang jumlahnya besar untuk mendapatkan reaksi fisik yang sama. Inilah mungkin jawaban terhadap fenomena timbulnya siklus rasa cinta terhadap pasangan kita. Selain keterlibatan zat kimia semacam amphetamine, zat endorphin yang dihasilkan oleh otak kita juga berpengaruh besar dalam menimbulkan rasa cinta yang lebih tenang dan sifatnya lebih langgeng. Rasa cinta ternyata juga melibatkan sejenis hormone bernama oksitosin yang dihasilkan oleh otak, yang memberi rasa tenang serta mendorong tercapainya kepuasan fisik.

Timbulnya gelombang atau siklus rasa cinta merupakan suatu reaksi fisik yang lumrah, namun tidak pula berarti tak perlu diantisipasi. Setiap pasangan tentu mendambakan perkawinannya akan abadi dan kondisi ini bias terjadi apabila kita mengupayakannya.

Salah satu upaya yang dapat kita lakukan adalah menghindari rutinitas serta mencari berbagai variasi yang dapat lebih menyegarkan hubungan dan manfaatkan untuk menghayati kembali perasaan terhadap pasangan.

(dikutip dari berbagai sumber)

3 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *