Petani Garam Madasari Mulai Panen Lagi

MASAWAH – Sekitar dua bulan petani garam di Desa Masawah tidak berproduksi, hal tersebut dikarenakan para petani garam disibukan dengan pembuatan penambahan kolam garam baru. Pembuatan kolam tersebut berjumlah tiga set masing-masing berukuran  3,7 x 11 meter, sebelumnya kolam yang dimiliki berjumlah satu set dengan ukuran 3,5 x 3,5 meter.

Setelah lama tidak berproduksi, kini akhirnya bisa panen kembali, itu pun baru dua set yang bisa dipanen karena tunnel yang satunya lagi masih tahap pengkristalan.

Penambahan kolam baru diharapkan bisa meningkatkan produksi garam lebih banyak lagi, diperkirakan jika keempat tunnel sudah bisa dipanen dengan kondisi cukup umur bisa menghasilkan 3 ton garam siap untuk dipasarkan.

Padi dan Kelapa Menjadi Komoditas Masyarakat Desa Masawah

MASAWAH – Kekayaan sumber daya alam di Desa Masawah Kec. Cimerak Kab. Pangandaran menjadi sebuah anugerah yang harus kita syukuri.

Bagaimana tidak dengan luas wilayah desa 1.847,9 Ha, dengan kondisi topografis dataran dan perbukitan, Desa Masawah mampu menghasilkan rata-rata 4,8 kwintal padi per Ha dengan luas tanah sawah 373,85 Ha, sedangkan hasil produksi tanaman kelapa mencapai Rp. 2.160.000.000 per tahunnya dengan luas perkebunan 310 Ha.

Maka tidak berlebihan bagi kita untuk selalu mensyukuri salah satu caranya bisa dengan menjaganya agar tetap bisa diolah kembali menjadi barang konsumsi. Karena tanaman padi dan kelapa menjadi salah satu komoditas masyarakat Desa Masawah.

Bagi petani menggarap lahan pesawahan dan perkebunan menjadi suatu investasi jangka menengah.

Kunjungan Anggota DPRD ke Petani Garam Madasari

MASAWAH – Sejumlah Anggota DPRD Kabupaten Pangandaran meninjau lokasi pergaraman di Madasari Desa Masawah Kecamatan Cimerak, Senin (28/5/2018).

Tinjauan itu memastikan apakah proses produksi garam dengan sistem tunnel di Madasari Desa Masawah benar bisa dimanfaatkan dengan baik. Dalam kunjungannya tersebut, salah seorang Anggota DPRD Kab. Pangandaran menghimbau agar pengelolaan garam harus melalui BUMDes atau kelompok, jangan sampai ada investor asing yang ingin masuk.

Sementara Kepala DKPKP menganjurkan agar Perda tentang Budidaya Ikan, Nelayan, Pengolah, Pemasar dan Penambak garam segera dibuatkan.

Sejalan dengan hal tersebut Kepala Desa Masawah menambahkan bahwa untuk anggaran pengadaan mesin pompa akan segera dimasukan dalam Perubahan Anggaran 2018, sedangkan untuk penambahan tunnel bisa dibuatkan proposal untuk pengajuan di Tahun Anggaran 2019.

Anggota DPRD Kab. Pangandaran Bp. Ucup, Ibu Sri, Ibu Cicih beserta Kadis DKPKP

Bp. H. Endang didampingi Kades Masawah

Panen Garam Pertama di Madasari Kab. Pangandaran
Rabu (09/05/18) bertempat di Dusun Madasari Desa Masawah Kec. Cimerak Kab. Pangandaran, panen garam pertama kali dilaksanakan. Pada kesempatan tersebut, dihadiri Kadis Kelautan Perikanan  dan Ketahanan Pangan (DKPKP) beserta Staf, Kordinator Penyuluh Perikanan Kab. Pangandaran, Kepala Desa Masawah, Kepala Desa Legokjawa dan para petani garam dari empat desa. 
Kadis Kelautan Perikanan  dan Ketahanan Pangan (DKPKP) Bapak Rida menyampaikan bahwa untuk menindaklanjuti pergaraman yang bulan sebelumnya diadakan pelatihan dan kini sudah menjadi petani garam agar petani garam bisa memanfaatkan kesempatan yang sudah diberikan, dengan cara mengelola dengan sebaik-baiknya agar menjadi kawasan petani garam pertama di Kab. Pangandaran khususnya di Dusun Madasari Desa Masawah.
Sementara Kades Masawah menambahkan bahwa dari Pemdes Masawah akan menganggarkan penambahan bak garam dan mesin pompa pada tahun anggaran 2019 sebagai upaya pemberdayaan masyarakat desa. 

Garam yang dihasilkan terbilang putih, karena kadar air laut di Pantai Madasari sangat baik untuk dijadikan garam berkualitas.

BERAWAL DARI HOBI BISA MERAUP RIZKI
Bonsai Boksus

Potensi alam di Desa Masawah sangatlah besar seakan tidak akan pernah habis, bahkan tanaman yang dianggap tidak manfaatpun bisa disulap menjadi sebuah karya seni yang indah, itulah yang dilakukan oleh Dedi Mulyadi warga di Dusun Masawah. Berawal dari hobi dan meluangkan waktu sehabis pulang kerja sebagai buruh harian lepas dia disibukan dengan merawat beberapa jenis tanaman hias (bonsai) di pekarangan rumahnya. Jenis tanamannya pun sangat beragam mulai dari Boksus, Santigi, Kiyanti, Mirten, Dolar, Caringin, sampai Kiara. Jenis tanaman yang sudah dibentuk menjadi bonsai sekitar 30 jenis tanaman. Pengadaan bahan tanaman tersebut diperolehnya dari sekitar hutan di Desa Masawah diantaranya dari hutan Cirawun, Ragadiem, Rancaleutik, Memengger dan ada juga yang diperoleh dari membeli bibit tanaman. “Banyak sekali jenis tanaman yang ada di daerah kita, tinggal kita mau mencari kukurusukan ka leuweung pasti dapat” kata Dedi.

Usaha yang ditekuninya ini sudah sekitar 3 tahun, meskipun masih terbilang belum lama namun peminatnya sudah cukup banyak. Terlebih lagi saat ini belum banyak yang punya usaha yang sama, jadi tidak terlalu banyak saingan. Dalam hal ini, tanaman bonsai yang bisa dikembangkan (dikawinkan) dan ditanam secara mandiri. “Alhamdulillah saat ini bonsai saya rawat sendiri, dibentuk sendiri, dan dikawinkan sendiri, nah disitulah tekhnik seni berimajinasi dan mengerdilkan bonsai harus dituangkan”, katanya.

Tanaman bonsai milik  Dedi juga kerap mendapatkan pesanan dari luar Desa Masawah, Seperti dari Batukaras, Cimerak dan Pangandaran. “Untuk perbulannya bisa terjual 4 buah bonsai”. Ungkap Dedi. Untuk harganya di mulai dari harga Rp. 250.000,- sampai dengan Rp. 1,5 juta. Harga yang berkisar jutaan tersebut adalah tanaman bonsai Boksus dan Santigi (Kiduduk). karena pohon tersebut sangatlah langka. Tanaman bonsai ini banyak peminat karena bentuk tanamannya yang menarik. Tidak heran jika harga penawarannya cukup tinggi. Dengan harga yang cukup itulah mengakibatkan penanaman dan parawatannya juga harus maksimal. Karena kalau tidak, bonsai yang mahal hanya akan mati sia-sia.

Dedi menjelaskan tata cara penanaman, perawatan dan juga pemilihan tanaman untuk di tempat teduh dan panas. Untuk tanaman tempat teduh, Dedi memberikan atap jaring di atasnya, jadi walaupun teduh tapi masih terkena cahaya matahari, bukan terkena panas. Dalam jangka perdua minggu, tanaman tersebut harus diberi vitamin dan obat pengusir hama. “Tapi dengan keterbatasan waktu saya belum sempat membuat atap jaring”, lanjut bapak 4 anak ini.

Menurut Dedi, setelah penanaman, tanaman bonsai harus terlindung dari sinar matahari, hujan dan angin. Kemudia kelembaban tanah dalam pot juga perlu dijaga jangan sampai tanah dalam pot kering.  Kemudian penyiraman tidak usah dilakukan selama medianya sudah lembab, cukup dikerudungi saja. Kalau sudah tidak ada pengembunan, baru disiram. Tapi kalau untuk soal penyiraman, bisa dilakukan pada malam hari. Tergantung cuaca, udara dan sebagainya.

“Untuk menjadi pengusaha seperti ini memang harus bisa teliti dan telaten, karena perwatannya memang membutuhkan waktu yang ekstra. Gampang-gampang susah lah,” ujar Dedi melanjutkan.
Dedi pun berharap, kelak suatu saat tanaman bonsai hasil budidaya ini dapat diapresiasi lebih tinggi oleh masyarakat. “Kan banyak tanaman hias tertentu yang pernah nge-trend lalu kemudian tidak bertahan lama,” katanya.

*Untuk memesan atau hanya sekedar melihat beberapa koleksi bonsai milik Dedi Mulyadi atau biasa dipanggil “Mang PLNe” datang saja di Dusun Masawah RT 05 RW 02 Desa Masawah.